0
Sahadewi.com Pada awal tahun 2016 sudah tentu masyarakat Indonesia telah masuk dalam musim penghujan, penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disebabkan oleh gigitan nyamuk “Aedes Aegypti” pun menjadi “penyakit tahunan” yang mematikan. Siapa sangka nyamuk juga bisa mengancam manusia, termasuk mematikan dalam jumlah puluhan hingga ratusan jiwa.
Hingga tanggal 29 Januari 2016, data Dinkes Jatim mencatat angka penderita demam berdarah di 38 kabupaten/kota se-Jatim mencapai 1.402 penderita dengan 37 orang di antaranya meninggal dunia.
Angka tersebut turun drastis jika dibandingkan dengan posisi Januari 2015 sebanyak 4.584 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 79 kasus. Namun, 37 orang atau 79 orang yang mati sama-sama banyak.
Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim) menetapkan 11 daerah di Jatim berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD 2016, karena jumlah kasus DBD hingga 29 Januari 2016 tercatat 1.402 penderita dengan jumlah kematian sebanyak 37 kasus.
Ke-11 daerah KLB DB 2016 adalah Jombang, Banyuwangi, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Kediri, Sumenep, Pamekasan, Nganjuk, Trenggalek, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten dan Kota Madiun.
“Penetapan KLB demam berdarah yang ditandatangani Gubernur Jatim, Soekarwo, itu sudah disampaikan ke masing-masing kepala daerah,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim Harsono.
Bahkan, Dinkes Jatim juga memasukkan lima kabupaten/kota di Jatim dalam kategori kawasan endemik penyakit demam berdarah dengue (DBD) selama Januari 2016.
Kelima daerah endemik DB 2016 antara lain, Jombang, Sumenep, Jember, Banyuwangi, dan Kabupaten Malang. Sementara untuk daerah-daerah lainnya masih bersifat sporadis dan kasuistis.
Tahun ini, Kabupaten Jombang mendominasi jumlah penderita DBD terbanyak di Jatim.
Data dari Pemerintah Kabupaten Jombang mencatat masyarakat yang terkena kasus DB berjumlah 139 penderita dengan 78 orang diantaranya sedang dirawat di RSUD setempat dan delapan meninggal.
Data yang sama dibeberkan Dinkes Jatim bahwa Januari 2016 tercatat Kabupaten Jombang memiliki jumlah kasus yang tertinggi se-Jatim yaitu 139 penderita dengan delapan meninggal dunia.
“Mayoritas penderita DB yang meninggal adalah anak-anak berusia antara 5-15 tahun,” ujarnya.
Mendadak Demam Tinggi Di RSUD dr Soetomo Surabaya, terdapat dua pasien DBD yang meninggal selama Januari 2016 dengan 25 pasien yang dirawat intensif. Dua pasien tersebut juga termasuk pasien anak-anak.
“Mayoritas pasien DBD yang dirawat di RSUD dr Soetomo datang dalam kondisi gawat maupun pasien rujukan dari rumah sakit lainnya,” kata Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Soetomo, dr Urip Murtedjo SpB-KL.
Ia menjelaskan setiap harinya ada tiga pasien yang dilarikan berdasarkan rujukan. “Setiap orang harus waspada, apalagi anak-anak, meskipun gejala panasnya hanya sehari,” tuturnya.
Senada dengan itu, Koordinator Unit Perawatan dan Penyakit Infeksi (UPIPI) RSUD dr Soetomo, Erwin Astha Triyono SpPD, menambahkan penyakit DBD bisa sembuh sendiri dengan waktu tujuh hari jika diketahui sejak dini, namun masyarakat masih belum memahaminya.
Untuk mencegah adanya penyakit DBD, pemerintah mencanangkan program gerakan satu juta juru pemantau jentik (jumatik) yang artinya dalam setiap satu rumah, yang menjadi juru pemantau jentik adalah anggota keluarga itu sendiri.
Dinkes juga mengintensifkan sosialisasi ke media massa dalam rangka kewaspadaan dan pencegahan DBD serta masyarakat pun dianjurkan untuk aktif melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di lingkungan tempat tinggalnya dengan kegiatan 3M Plus.
3M Plus adalah menutup tempat penampungan air, menguras tempat penampungan air minimal satu minggu sekali, mengubur atau memanfaatkan barang bekas, serta menggunakan bubut obat pembunuh jentik pada penampung air terbuka dan mencegah gigitan nyamuk dengan kelambu atau anti-nyamuk berupa bakar, oles, maupun semprot.
“Kami mengimbau masyarakat untuk segera membawa penderita demam ke fasilitas kesehatan terdekat agar mengetahui apakah penderita terkena DBD dengan melakukan tes darah, supaya terdeteksi secara dini,” jelas Kepala Bidang Pengendalian Penyakit (Kabid P2) Dinkes Jatim, Ansharul.
Pihaknya juga sudah menerbitkan Surat Edaran (SE) Kewaspadaan ke kabupaten/kota, dan melakukan pendampingan penanganan kasus DBD di Rumah Sakit dan PKM di kabupaten prioritas.
Selain itu, melakukan pendistribusian logistik larvasida dan insektisida ke kabupaten/kota, maupun bimbingan teknis (Bimtek) penyelidikan epidemologi ke kabupaten/kota.
“Lebih dari itu, masyarakat juga seharusnya memahami tentang DBD. Ciri DBD pada anak dan balita yaitu mendadak demam tinggi, bisa mencapai 105 derajat Fahrenheit atau 40 derajat Celcius,” katanya.
Ciri berikutnya adalah sakit di belakang mata, nyeri sendi, otot, dan tulang, perdarahan ringan dari hidung (mimisan) atau gusi, terkadang disertai batuk dan pilek, tidak nafsu makan, mual dan muntah serta gatal pada telapak kaki.
Jadi, sayangilah keluarga Anda dengan mencegah DBD melalui pengenalan gejala hingga penanganan lebih lanjut bila sudah terpapar.

Posting Komentar

 
Top